KARYA PEMAGANG HIMBIO

 Halo para pembaca sekalian, agar harinya gak ngebosenin yuk dibaca cerpen dibawah ini untuk membunuh waktu disaat gabut. Stay safe yaa semua💚

 

Oleh : Bunga Nurmalasari


Serumpun Tasbih

Azan magrib berkumandang, pastilah umat Islam berbondong-bondong menghadap sang Ilahi. Tak luput pula dengan Sari. Ia segera mengambil wudu dan membentang sajadah, kemudian mendirikan salat magrib. Disetiap doanya ia meminta kemudahan untuk menuntut ilmu dan diterangkan pikiran serta hatinya. Sari juga berdoa untuk bapaknya yang lebih dulu dipanggil oleh Allah swt. serta untuk ibunya tercinta.

Usai salat dan berdoa, Sari hendak membereskan sajadah serta mukena, namun terdengar ketukan pintu rumah yang menandakan bahwa ibunya telah pulang bekerja. Ia pun bergegas membukakan pintu.

“As-salamu’alaikum,” salam diucapkan ibunya dengan wajah lelah.

“Wa’alaikumus-salam wa rahmatullahi wa barakatuh,” jawab Sari lengkap.

“Sari, tolong buatkan Ibu air teh. Habis itu pijatkan bahu ibu ya, pegal-pegal nih,” seraya menggerakkan bahunya pelan.

“Iya. Ibu tunggu dimana? Kamar?”

“Enggak, disini aja,” duduk bersandar di ruang tamu.

Tak lama kemudian, secangkir teh sudah bertengger di atas nampan.

 “Silahkan diminum dulu Bu, hati-hati tehnya masih agak panas,” ucap Sari memperingati dan meletakkan nampan di atas meja.

“ Hm.” Jawab Ibu sebelum menyeruput sedikit teh tersebut.

Setelah usai, Ibu memberikan intruksi kepada Sari untuk memijatkan bahunya. Entah keberanian dari mana, Sari memulai pembicaraan bersama ibunya.

“Bu,Alhamdulillah Sari lolos SNMPTN. Rencananya Sari akan ambil jurusan FKIP, soalnya Sari mau jadi guru yang baik, Bu.”

“Batalkan,” titahnya tegas. “Ibu tidak setuju,” ungkap sang Ibu selanjutnya.          

Kata yang terucap dari sang Ibu tak pernah terlintas di benak Sari. Ia pikir ibunya akan bangga karena ini juga merupakan salah satu impian bapaknya.

“Ta … Tapi Bu, kenapa?” Hanya itu yang terucap dari bibir mungilnya. Ia tak mampu lagi merasakan kekecewaan di hati. Ia takut akan menjatuhkan air mata ketika terlalu banyak bicara.

“Ibu tidak mau kamu melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi. Kita ini sudah susah, jadi jangan ditambah susah. Bapakmu sudah meninggal, lalu mau bayar pakai apa kuliahmu nanti? Lebih baik kau bekerja dan menghasilkan uang yang banyak daripada menghabiskan waktu untuk kuliah.” Lantunan kata yang keluar dari bibir ibunya membuat Sari tak kuasa lagi membendung air mata. Pijatan di bahu ibunya pun melemah.

“Alah, sampai rumah bukannya dapat pijatan yang enak malah lihat adegan nangis.” Ibu pun lekas pergi dan masuk ke kamar.

Terhitung sejak hari itu pula Sari terlihat tak seceria biasanya. Kini ia sering murung dan melamun. Hingga saat berkumpul BBQ di musala, yang rutin diadakan setelah salat jumat pun, ia terlihat pilu. Sampai-sampai membuat dirinya ditegur oleh Kak Siroh selaku pembimbing di kelompoknya.

“Sari kenapa? Kok dari tadi Kakak perhatikan kamu agak gak fokus gitu?”

“Eh, iya Kak, maaf ya Kak Siroh.”

“Kenapa? Mau cerita sekarang?” Tawar Kak Siroh.

Sari melihat sekeliling yang terlihat ramai dan apalagi ada anggota BBQ lainnya membuat ia sungkan untuk berbicara saat itu. Ia pun memutuskan untuk bercerita saat keadaan telah sepi, dan Kak Siroh meyetujui. Berselang waktu yang cukup lama, akhirnya BBQ telah usai. Teman-teman dan beberapa adik tingkatnya sudah pulang. Kini tinggallah Sari dan Kak Siroh di musala sekolah.

“ Sekarang Sari cerita sama Kakak, ada masalah apa?” bujuk Kak Siroh kepada Sari yang sedari tadi menundukkan kepalanya, seperti menutupi sesuatu di wajahnya. Mendengar bujuk rayu Kak Siroh, Sari pun mengangkat kepalanya dan menatap lekat Kak Siroh.

“ Ibu Sari gak senang saat tahu Sari lolos SNMPTN. Katanya, kuliah hanya membuang-buang waktu dan juga uang kuliah Sari nanti bisa bikin Ibu tambah susah. Ibu maunya Sari bekerja dan membantu Ibu. Tapi Sari maunya mengejar cita-cita Sari untuk menjadi seorang guru. Waktu Bapak masih ada, Bapak dan Ibu mendukung cita-cita Sari. Tapi sekarang, Ibu tak setuju. Jadi Sari harus bagaimana Kak? Menjadi guru bukanlah sekadar cita-cita bagi Sari namun, juga impian Bapak yang belum terwujud.”

Ternyata, tetes air mata dan raut wajah sedihnyalah yang ia tutupi dari tadi. Tetapi saat berbicara dengan Kak Siroh, luntur sudah pertahanan dirinya. Sekarang Sari dalam kondisi rapuh..,serapuh-rapuhnya.

“Sari kecewa dengan keadaan, Sari marah pada Ibu, Sari merasa takdir tak adil, kenapa Allah memberikan alur cerita hidup seperti ini pada Sari Kak? Kenapa?”

Kak Siroh masih setia mendengar kesedihan Sari sambil menggenggam tangannya. Seakan-akan menyalurkan kekuatan positif melalui tindakan kecil yang ia beriakan. Kak Siroh mendengarkan Sari serta berusaha memahami masalah tersebut. Tetapi, Kak Siroh tak juga membenarkan sikap Sari yang demikian pada sang Maha Pencipta.

“Ingat gak firman Allah swt. di surah AL-Baqarah ayat 286 yang berisikan bahwa, Allah swt. tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Artinya Allah tidak membebani apa-apa yang terlintas dalam perasaan dan tercetus dalam hati. Perasaan dan hati Sarilah yang mengkonsep bahwa Sari tidak mampu menghadapi cobaan dari Allah. Padahal yang dimaksud kemampuan dalam ayat ini bukanlah batasan minimal kemampuan seseorang, melainkan kemauan yang kuat akan mengerahkan seluruh kesungguhan walau dalam menghadapi banyak kesulitan dan penderitaan.”

Kak Siroh menjeda penjelasannya agar Sari dapat mencerna baik-baik setiap perkataannya.

“Kalau Ibu Sari merasa kesusahan dengan uang kuliah, Sari bisa mengajukan beasiswa bidik misikan. Sedangkan kalau soal kuliah itu hanya buang-buang waktu, itu sunggu tidak benar.Malahan dengan kuliah, kita bisa memperdalam ilmu pengetahuan. Dan soal pekerjaan, Sari bisa kok kerja sambil kuliah asalkan mampu mengatur waktu, misalnya pagi sampai siang kuliah, sore atau malamnyakan  bisa bekerja. Dan untuk Ibu Sari yang gak setuju dengan cita-cita Sari, Sari harus pelan-pelan memberikan pengertian pada Ibu Sari. Ngomongnya harus lemah lembut dan sopan,  bagaimana pun mereka tetaplah orang tua kita. Lebih baik lagi jika diajak ngobrol dengan suasana yang baik dan tenang.”

Sari yang sedari tadi menyimak penjelasan Kak Siroh pun mengangguk patuh.

“Sari harus sabar dan memahami Ibu Sari. Karena  setiap orang tua hanya mau yang terbaik untuk anaknya. Mungkin saja Ibu Sari pikir, jadi guru itu akan sulit, dan apalagi perlu waktu yang lama untuk diangkat menjadi PNS. Makanya, Sari juga harus buktikan dengan tindakan. Bahwa Sari mampu meraih mimpi dengan jerih payah sendiri.Yakinkan Ibu Sari kalau Sari itu mampu dan yang Sari butuhkan hanyalah dukungan dari Ibu Sari.”

“Iya Kak, Sari paham.Terimakasih Kak untuk semua nasehatnya.”

“Jadi sekarang jangan sedih lagi yah… Kan ada Allah, harusnya Sari sering-sering berkomunikasi dengan Allah biar hatinya gak sedih.”

“Tapi gimana caranya Kak? Berkomumikasi dengan apa?” Tanya Sari penasaran.

“Rajin-rajinlah bertasbih. Dengan berzikir kepada Allah berarti kita senantiasa mengingat Allah swt. Itulah caranya agar selalu berkomunikasi dengan Allah.Terus, jangan tinggalkan salat sebab di waktu salatlah kita curhat kepada Allah.”

“Iya Kak, Sari akan selalu ingat nasehat Kakak, sekarang hati Sari rasanya plong banget..!” Ujarnya dengan senyum Pepsodent. “Sekali lagi terimakasih  banyak ya Kak Siroh.”

Kak Siroh juga tersenyum hingga lesung pipinya tampak begitu jelas, “Sama-sama”.

Akhirnya, sejak saat itu,lafaz tasbih dan zikir tak pernah absen di lidahnya. Salat sunah pun mulai didirikannya. Sari merasa hatinya lebih damai dan sejuk sejak ia lebih mendekatkan diri pada Allah swt. Perlahan Sari bangkit dari kesedihan yang sempat membelenggu dirinya.

Enam bulan kemudian, tak terasa berat oleh Sari karena ia merasa Allah selalu ada di sisinya. Apalagi sekarang ia telah berhasil meyakinkan dan membuktikan pada ibunya bahwa ia mampu mendapatkan beasiswa bidik misi hingga bisa kuliah gratis. Apalagi ia lewat jalur SNMPTN.Dan juga telah mempunyai pekerjaan sebagai pengajar untuk anak SD di yayasan swasta. Sari jua merasa sangat bersyukur karena ia telah mewujudkan impian bapaknya.

Ternyata benar, dengan serumpun tasbih kita bisa berkomunikasi dengan Allah swt. Yang Maha Agung lagi Maha Pemberi solusi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

7 Ilmuan Biologi Muslim yang Dilupakan Sejarah

BIOPERS : CYBER BULLYING

BioInfo : Entognatha, Heksapoda yang bukan serangga